Tentang Industrial Design di Indonesia

Barusan ada posting pertanyaan menarik dari seorang rekan di Jakarta terhadap posting blog saya di sini .
berhubung jawabannya jadi agak panjang, jadi saya posting jadi blog session sendiri

ini pertanyaannya:
“…hallo, salam kenal…
…menarik ya memandang Industrial Design dari negara maju…
…gimana menurut stevie, memandang profesi ini jika berada di negara berkembang seperti Indonesia …??
kebanyakan teman2 se-profesi beralih ke pekerjaan grafis dan interior…karena profesi grafis dan interior lebih menghidupi…
…apa pandangan anda dengan kerajinan/kriya yg mestinya bisa dikembangkan secara industri di indonesia..?”

wah, saya pas baru aja bangun tidur langsung berhadapan dengan pertanyaan ‘dalem’ begini, tapi karena issue ini sangat menarik, maka saya dengan antusias mencoba menjawab. mudah2-an menjawab pertanyaannya ya…

aku jawab satu2 ya…

..memandang profesi ini jika berada di negara berkembang…
sebelum saya langsung kepertanyaannya, saya ada beberapa cerita…
pernah suatu saat ketika saya pertama bertemu dan mengenalkan diri pada professor pembimbing project tesis saya, dia bertanya, “…oh, ada ya sekolah industrial design di Indonesia…?… saya baru tahu…tuh”…..gubrakk
Ya, ok that’s just a story but artinya secara ga langsung emang dalam pandangan mereka agak‘aneh’ juga mungkin ya mengetahui ada sekolah industrial design di indonesia, sama seperti saya juga kaget mengetahui ada sekolah industrial design di Afrika (temen saya sekelas ada yg dosen industrial design di Afrika – Botswana) dan rekan saya ini rencananya akan dibiayai sampai doktorat ke Amerika nantinya dari kampusnya… Wow !

Tapi begini ya. Ini sebenernya tergantung anda ngelihat industrial design sebagai profesi macam apa. Industrial design bagi saya sebenernya lebih ke suatu usaha ‘pemecahan masalah (peningkatan kualitas hidup manusia) melalui pendekatan perancangan produk’
masalahnya bisa apa saja, produk yang dihasilkan bisa apa aja. pendekatannya solusinya jugadepends on what kind of product-nya.

Sewaktu saya mengerjakan project Integral Design disini, saya baru ‘nyadar’ bahwa profesiindustrial design disini bisa mengerjakan segala macam hal mulai dari project yang purely mechanical / engineering, hingga project yang hanya bicara tentang styling dan konsep user interaction, or even only talk about tools and methods.

Jujur, saya terkaget2 ketika melihat rekan2 industrial designer disini bisa membuat perhitunganaerodinamika, struktur statik dinamik, kalkuklasi Life Cycle Analysis, stress – strain analysis… berbicara tentang konsep produk assembly di industri dan advanced material technology sampai ke pehitungan dampak lingkungannya… [ usia mereka 22-24 tahun, seusia mahasiswa Tugas Akhir di kampus Indonesia]

dalam hati saya : “ damn, dulu ketika saya masih seusia mereka ya…. saya bodoh sekali kalau begitu….!!”

Ketika di Indonesia untuk masuk sekolah Industrial design mengutamakan test nggambar… disini yang dilihat nilai fisika matematika, dll…!!

Believe it or not, teknik presentasi dan menggambar hanya ‘elective’ course disini… no drawing test at all here !

Kalau memang anda really talented in styling, dan anda berminat, anda bisa pergi ke sekolah khusus yg menekankan product styling – tapi sifatnya sekolah2 tersebut adalah ‘Hogeschool’ / “Fachhochschule” artinya ‘kejuruan’ atau ‘professional oriented’…. they are not even Universiteit. Banyak mahasiswa Indonesia (dan bahkan banyak dosen..saya kira) ngga tahu tentang perbedaan hal ini.

Ohhhh please…saya selalu menekankan  industrial design is not senirupa !!!
(saya kadang capek sendiri loh kalo lihat penampilan ala ‘seniman’ mahasiswa2 desain produk Indonesia… ada yang dandan gotik, punk, atau dandanan aneh2 lain…. saya sekarang berada di salah satu pusat pendidikan industrial design di Eropa, dan saya TIDAK pernah melihat fenomena penampilan semacam itu disini …. jadi mestinya malu dong, kalo prestasi belum seberapa, penampilan diutamakan…)…jdi kemana2 ya…

Ada cerita lain lagi, ketika saya sampai disini saya terkaget2 bahwa ada sebagian dari mereka yang secara serius mengerjakan project2 yang namanya ‘Base of Pyramid’ projects, yang intinya mengerjakan project2 pengembangan produk untuk negara2 miskin / berkembang. Mereka menelitibajaj untuk India, sepeda roda tiga buat jual makanan di Afrika, penyediaan sanitasi dan air bersih di Ghana. Lampu minyak buat masyarakat Afrika dan India…Incubator bertenaga matahari buat rural hospital di Afrika, Bahkan ada rekan saya sekarang sedang mengerjakan project tentang kompor minyak kelapa sawit bagi masayarakat perkebunan di Lampung Indonesia, pokoknya benar2 jauh dari bayangan anda tentang ‘industrial design’ yg anda lihat di internet dan buku2 styling itu…

(…kebayang ngga bahwa semua project itu inisiatifnya justru dari kampus industrial design di Eropa…dan sponsornya perusahaan besar semacam Philips, Siemens Bosch, Unilever, dll.)

Believe it or not, even IDEO currently doing this kind of project?

Waktu pertamakali saya datang saya sempat mikir, “WTF is it ???…I don’t come far from my country to learn how to design….’becak’…here…… ohh come on….”

Mengapa trendnya demikian? Ada apa dibalik itu semua? …itu sebenernya ada ceritanya sendiri(mudah2 an suatu saat saya ada waktu menulis khusus tentang ini)

Tapi Inti jawaban saya adalah:  industrial design itu sebenernya ya sangat relevan buat negara berkembang bahkan miskin…. Jika kita melihat profesi ini initinya adalah problem solver terhadap masalah2 aktual yang terjadi di masyarakat…
Mulai masalah yang terjadi di masyarakat modern….post modern….masyarakat industri… masyarakat teknologi informasi….masyarakat konsumtif… hingga masyarakat under-served / miskin dan terbelakang….

Fokus dan spesialisasi expertise industrial design itu diverse dan beragam….

kebanyakan proses pendidikan ID di Indonesia hanya menampilkan ngga sampe sepertujuh dari ‘wajah industrial design’ yang sesungguhnya.

…kebanyakan teman2 se-profesi beralih ke pekerjaan grafis dan interior…karena profesi grafis dan interior lebih menghidupi…

saya punya dua jawaban terhadap issue ini

Pertama,

Saya ngga menyalahkan ya….
Karena memang demand-nya di Indonesia ngga sebanding dengan jumlah lulusan yang dihasilkan.
Jangan juga dibayangkan di Eropa sini semua lulusan industrial designer juga nantinya bakal jadiindustrial designer di Industri. [ mahasiswa kan selalu ada yang top abis, ada yang biasa2 aja…dan ada juga yang under average… motivasi kuliahnya juga beda2…]

Persaingan disini juga ketat, hanya prominent graduate yang akhirnya bisa menembus bursaindustrial2 designer top di Industri Eropa. jadi banyak juga yang beralih profesi di bidang marketing, enterpreneur, independent consultant, graphic design juga…

Ketika anda mempelajari suatu ilmu di universitas, ngga selalu harus memandangnya sebagai profesi yang anda tekuni nantinya… Banyak juga yang sekarang belajar medis tanpa berminat melanjutkan ke profesi dokter. Knowledege and Profession… bagi saya something different.
“banting setir” bisa karena ‘terpaksa’… atau ‘pilihan’… tapi bagi saya ga ada masalah

Kedua,
Saya melihat iklim pendidikan kita juga punya kontribusi ‘dosa’ terhadap masalah ini… why?

Saya pernah ngobrol dengan rekan saya dari Columbia, dia dosen industrial design di Universidad Nacional de Colombia, Bogotá – salah satu universitas negeri terbaik disana, dia mengeluhkan situasi yang sama: universitas disana menghasilkan banyak lulusan yang nantinya tidak bekerja di profesinya…
Masalahnya juga sama, karena demand di industri ngga sebanyak jumlah lulusan industrial designernya.

Hal itu disebabkan karena pendidikan industrial design dikomersialisasikan. Banyak universitas2 swasta menawarkan program2 pendidikan industrial design dengan biaya mahal. Dengan brosur promosi yang luar biasa indah dengan gambar2 product styling dari desainer2 top dunia, mereka menjual mimpi ke anak2 muda ini yang akhirnya terangsang berbondong2 masuk ke universitas tersebut dengan biaya yang tidak sedikit tentunya.

Pendidikan Industrial Design itu adalah bisnis yang menggiurkan disana !!
Tapi realitanya di industri ngga seindah itu…

Sekolah2 ini tidak bertanggung jawab terhadap lulusannya, urusan mereka hanya menarik mahasiswa sebanyak2 nya, menghasilkan profit sebesar2nya…

Fenomena yang sama mungkin juga terjadi di Indonesia… it’s all about business dude..!.

Saya sebenarnya ngga sepenuhnya menyalahkan, karena naturally this kind of thing will happen, it’s about supply and demand di dunia pendidikan, …. bukan di dunia industri… that’s different !

Tapi coba kita lihat ya….. apa yg terjadi di Eropa atau negara maju…
Kualitas pendidikan disini (Eropa) secara umum benar2 diproteksi, universitas untuk warganya umumnya murah kalau tidak …ya benar2 gratis. Secara umum universitas2 negeri tidak komersial, mereka tidak mengutamakan kuantitas, tapi kualitas… mau muridnya jumlahnya cuma 10 orang mereka tidak peduli, tapi mereka benar2 bermutu…

Relasi dengan industri juga sangat kuat sehingga most of lulusannya pasti dapat terserap di industri. Banting setir profesi atau tidak it’s all about choice here…
Karena itu universitas disini punya ‘pride’ dan ‘respectable’
saya ingat bos saya bilang….” kalau mau tau yang namanya bener-bener belajar… belajarlah di Eropa….” dan itu saya rasakan bener disini…

Saya ada cerita lagi,
Saya pernah bertemu mahasiswa Transportation Design di FH Pforzheim sewaktu di Jerman, saya kaget loh waktu nanya berapa teman sekelas dia:  4 orang !!!!  (tahun 2007) can you imagine that … empat?

Sekolah itu hanya menghasilkan 4 automotive designer di negara penghasil BMW, Mercedes, Audi, VW, dll…..

Contoh lain ya…. Art Center College of Design Pasadena, (anak ID pasti tahu kemahsyuran sekolah ini ), selama 80 tahun hanya menghasilkan 1482 designer ( artinya rata rata per tahun menghasilkan cuma 18 designer !!!! sejak tahun 1930) mereka hanya mau menerima extremelyhighly talented student !!  bukan yang rata2 …bukan yang coba2 ..bukan yang iseng2

Bandingkan coba dengan Indonesia ya…. ITS atau ITB aja lah yang negeri…. bisa anda hitung berapa jumlah rata2 lulusan pertahun ?  Setiap tahun aja mereka masing2menjaring kurang lebiih paling tidak 100 mahasiswa baru ….

Mutu mahasiswanya … bagaimana ?…..Kebutuhan  industrinya … bagaimana?

Saya pernah nanya bos saya dulu,
“kenapa pak kita ngga membatasi jumlah mahasiswa yg masuk… benar2 selektif, maksimum 20 orang aja per angkatan”……

“Ngga mungkin Stev,… dosen2 bisa ngga makan nantinya… dan jurusannya bisa digusur tuh dianggap ngga profitable lagi…” ya begitulah kompleks masalahnya…

you got my point ?

 …apa pandangan anda dengan kerajinan / kriya yg mestinya bisa dikembangkan secara industri di Indonesia…?
Kembali ke jawaban pertanyaan nomer satu tadi, saya kira ini termasuk salah satu masalah yang paling real dalam konteks Indonesia: industri kerajinan (SMEs atau home Industry)

No doubt, skill pengerajin Indonesia itu luar biasa. Kelemahan yang saya lihat ada pada mereka terutama kurangnya knowledge tentang strategi pemasarannya, branding strategy-nya, innovasi desain dan materialnya, dan issue2 lain semacam paten, regulasi ekspor impor dan lain2.

Penelitian di bidang ini sebenernya juga sudah banyak saya kira, inisiatif2 workshop dan pelatihan saya juga tahu sudah ada dimana2, … Intinya kesadaran tentang ini saya lihat sudah ada dan action-nya juga sudah real…

Anda tahu kita punya Dewan Design Nasional di bawah departemen perindustrian, yang diketuai Prof Widagdo, guru besar ITB. Mereka mengorganisir Indonesian Good Design award sejak 2002, jika anda lihat profil produk2 kerajinan yg dapat award… luar biasa !!… hasil karya desainer Indonesia tidak boleh diremehkan sebenarnya…

Saya juga pernah melihat hasil penelitian intensif Prof. Shujiro Urata, Ph.D, beliau peneliti JICA, yang menerbitkan Policy Reccomendation bagi promosi desain kerajinan di Indonesia sekitar tahun 2000 untuk kementrian perindustrian dan perdagangan waktu itu…dan juga saya tahu rekan2 di ITS Design Center Surabaya yang aktif meneliti dan mengorganisir workshop industri kecil dan kerajinan hinga ke wilayah2 pelosok Indonesia Timur, dll…

ya tinggal kita lihat saja hasilnya beberapa tahun kedepan… don’t worry, they’re working on it…

Meskipun saya sendiri secara khusus tidak terfokus mempelajari issue2 di bidang kerajinan, tapi saya melihat issue ini sangat relevan… dan bukan sesuatu yang baru dibahas hari ini melainkan sudah hampir dua dekade usianya,
dan saya melihat sudah cukup banyak rekan2 industrial designer Indonesia yang memilih memfokuskan diri pada masalah ini…

Demikian Aris, semoga dapat menjawab pertanyaan anda….

salam,
Stevie
Strategic Product Development

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *